Thursday, 6 August 2015

Pengertian Iman Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama'ah

PortalRenungan.
Bagaimana pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah ? Apakah Iman itu bisa bertambah atau berkurang ? Pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah ; ikrar dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Jadi, Iman itu mencakup tiga hal : Ikrar dengan hati, Pengucapan dengan lisan, Pengamalan dengan anggota badan.

pasang iklan Jika keadaannya demikian, maka iman itu akan bisa bertambah atau bisa saja berkurang. Lagi pula nilai ikrar itu tidak selalu sama. Ikrar atau pernyataan karena memperoleh satu berita, tidak sama dengan jika langsung melihat persoalan dengan kepala mata sendiri. Pernyataan karena memperoleh berita dari satu orang tentu berbeda dari pernyataan dengan memperoleh berita dari dua orang. Demikian seterusnya. Oleh karena itu, Ibrahim 'Alaihis Sallam pernah berkata seperti yang dicantumkan oleh Allah dalam Al-Qur'an.

"Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati. Allah berfirman : 'Apakah kamu belum percaya'. Ibrahim menjawab : 'Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya". (Al-Baqarah : 260)

Iman akan bertambah tergantung pada pengikraran hati, ketenangan dan kemantapannya. Manusia akan mendapatkan hal itu dari dirinya sendiri, maka ketika menghadiri majlis dzikir dan mendengarkan nasehat didalamnya, disebutkan pula perihal surga dan neraka ; maka imannya akan bertambah sehingga seakan-akan ia menyaksikannya dengan mata kepala. Namun ketika ia lengah dan meninggalkan majlis itu, maka bisa jadi keyakinan dalam hatinya akan berkurang.

Iman juga akan bertambah tergantung pada pengucapan, maka orang berdzikir sepuluh kali tentu berbeda dengan yang berdzikir seratus kali. Yang kedua tentu lebih banyak tambahannya.

Demikian halnya dengan orang yang beribadah secara sempurna tentunya akan lebih bertambah imannya ketimbang orang yang ibadahnya kurang.

Dalam hal amal perbuatan pun juga demikian, orang yang amalan dengan anggota badannya jauh lebih banyak daripada orang lain, maka ia akan lebih bertambah imannya daripada orang yang tidak melakukan perbuatan seperti dia.

Tentang bertambah atau berkurangnya iman, ini telah disebutkan di dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Allah Ta'ala berfirman. 

"Artinya : Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya". (Al-Mudatstsir : 31)

"Artinya : Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata : 'Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini ?' Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir". (At-Taubah : 124-125)

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, pernah bersabda bahwa kaum wanita itu memiliki kekurangan dalam soal akal dan agamanya. Dengan demikian, maka jelaslah kiranya bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.

Namun ada masalah yang penting, apa yang menyebabkan iman itu bisa bertambah ? Ada beberapa sebab, di antaranya: 

Mengenal Allah (Ma'rifatullah) dengan nama-nama (asma') dan sifat-sifat-Nya. Setiap kali marifatullahnya seseorang itu bertambah, maka tak diragukan lagi imannya akan bertambah pula. Oleh karena itu para ahli ilmu yang mengetahui benar-benar tentang asma' Allah dan sifat-sifat-Nya lebih kuat imannya daripada yang lain.

Memperlihatkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang berupa ayat-ayat kauniyah maupun syar'iyah. Seseorang jika mau memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat kauniyah Allah, yaitu seluruh ciptaan-Nya, maka imannya akan bertambah. Allah Ta'ala berfirman. Artinya : "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan" (Adz-Dzariyat : 20-21). Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa jika manusia mau memperhatikan dan merenungkan alam ini, maka imannya akan semakin bertambah.

Banyak melaksanakan ketaatan. Seseorang yang mau menambah ketaatannya, maka akan bertambah pula imannya, apakah ketaatan itu berupa qauliyah maupun fi'liyah. Berdzikir -umpamanya- akan menambah keimanan secara kuantitas dan kualitas. Demikian juga shalat, puasa dan haji akan menambah keimanan secara kuantitas maupun kualitas.

Adapun penyebab berkurangnya iman adalah kebalikan daripada penyebab bertambahnya iman, yaitu: 

Jahil terhadap asma' Allah dan sifat-sifat-Nya. Ini akan menyebabkan berkurangnya iman. Karena, apabila mari'fatullah seseorang tentang asma' dan sifat-sifat-Nya itu berkurang, tentu akan berkurang juga imannya.

Berpaling dari tafakkur mengenai ayat-ayat Allah yang kauniyah maupun syar'iyah. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya iman, atau paling tidak membuat keimanan seseorang menjadi statis tidak pernah berkembang. 

Berbuat maksiat. Kemaksiatan memiliki pengaruh yang besar terhadap hati dan keimanan seseorang. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda : "Tidaklah seseorang itu berbuat zina ketika melakukannnya sedang ia dalam keadaan beriman". (Al-Hadits)

Meninggalkan ketaatan. Meninggalkan keta'atan akan menyebabkan berkurangnya keimanan. Jika ketaatan itu berupa kewajiban lalu ditinggalkannya tanpa udzur, maka ini merupakan kekurangan yang dicela dan dikenai sanksi. Namun jika ketaatan itu bukan merupakan kewajiban, atau berupa kewajiban namun ditinggalkannya dengan udzur (alasan), maka ini juga merupakan kekurangan, namun tidak dicela. Karena itulah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menilai kaum wanita sebagai manusia yang kurang akal dan kurang agamanya. Alasan kurang agamanya adalah karena jika ia sedang haid tidak melakukan shalat dan puasa. Namun ia tidak dicela karena meninggalkan shalat dan puasa itu ketika sedang haid, bahkan memang diperintahkan meninggalkannya. Akan tetapi jika hal ini dilakukan oleh kaum laki-laki, maka jelas akan mengurangi keimanannya dari sisi yang satu ini.

Wednesday, 5 August 2015

Apakah Islam dan Iman Itu ?

PortalRenungan.
Apa definisi Iman itu dan apa perbedaannya antara Iman dan Islam?. Islam dalam pengertiannya secara umum adalah menghamba (beribadah) kepada Allah dengan cara menjalankan ibadah-ibadah yang disyariatkan-Nya sebagaimana yang dibawa oleh para utusan-Nya sejak para rasul itu diutus hingga hari kiamat.

pasang iklan

Ini mencakup apa yang dibawa oleh Nuh as berupa hidayah dan kebenaran, juga yang dibawa oleh Musa as, yang dibawa oleh Isa as dan juga mencakup apa yang dibawa oleh Ibrahim as, Imamul hunafa' (pimpinan orang-orang yang lurus), sebagaimana diterangkan oleh Allah dalam berbagai ayat-Nya yang menunjukkan bahwa syariat-syariat terdahulu seluruhnya adalah Islam kepada Allah Azza wa Jalla.

Adapun Islam dalam pengertiannya secara khusus setelah diutusnya Nabi Muhammad saw adalah ajaran yang dibawa oleh beliau. Karena ajaran beliau menghapun (menasakh) seluruh ajaran yang sebelumnya, maka orang yang mengikutinya menjadi seorang muslim dan orang yang menyelisihinya bukan muslim karena ia tidak menyerahkan diri kepada Allah, akan tetapi kepada hawa nafsunya.

Orang-orang Yahudi adalah orang-orang muslim pada zamannya Nabi Musa as, demikian juga orang-orang Nashrani adalah orang-orang muslim pada zamannya Nabi Isa as. Namun, ketika telah diutus Nabi Muhammad saw kemudian ia mengkufurinya, maka mereka bukan lagi menjadi orang muslim.

Oleh karena itu, tidak dibenarkan seseorang berkeyakinan bahwa agama yang dipeluk oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani sekarang ini sebagai agama yang benar dan diterima di sisi Allah sebagaimana dienul Islam, bahkan orang yang berkeyakinan seperti itu berarti telah kafir dan keluar dari dienul Islam, sebab Allah Taala berfirman yang artinya,

"Sesungguhnya dien yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam." (Ali-Imran: 19)
"Barangsiapa mencari suatu dien selain Islam, maka tidak akan diterima (dien itu) daripadanya." (Ali-Imran: 85) 

Islam yang dimaksudkan adalah Islam yang dianugrahkan oleh Allah kepada Muhammad saw dan umatnya. Allah berfirman, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridoi Islam itu jadi agamamu." (Al-Maidah: 3)

Ini adalah dalil (nash) yang amat jelas yang menunjukkan bahwa selain umat ini, setelah diutusnya Nabi Muhammad saw, bukan pemeluk Islam. Oleh karena itu, agama yang mereka anut tidak akan diterima oleh Allah dan tidak akan memberi manfaat pada hari kiamat. Kita tidak boleh menilainya sebagai agama yang lurus. Salah besar orang yang menilai Yahudi dan Nashrani sebagai saudara seiman, atau bahwa agama mereka pada hari ini sama pula seperti yang dianut oleh para pendahulu mereka. Agama mereka tidak sama dengan seperti pendahulu mereka yang masih lurus dengan ikhlas mengikuti rasulnya. Ajaran agama mereka telah diselewengkan dengan ajaran dan sejarah yang dibuat oleh orang-orang yang ingkar terhadap rasulnya. Mereka ingkar terhadap kedatangan rasul yang akhir, Muhammad saw, sebagai pembawa risalah yang terakhir dan yang sempurna dari Allah SWT.

Jika kita katakan bahwa Islam berarti menghamba diri kepada Allah Taala dengan menjalankan syariat-Nya, maka dalam artian ini termasuk pula pasrah atau tunduk kepada-Nya secara zahir maupun batin. Ia mencakup seluruh aspek: akidah, amalan, maupun perkataan. Namun, jika kata Islam itu disandingkan dengan Iman, maka Islam berarti amal-amal perbuatan yang zahir berupa ucapan-ucapan lisan maupun perbuatan anggota badan. Adapun Iman adalah amalan batiniah yang berupa akidah dan amalan-amalan hati. 

Perbedaan istilah ini bisa kita lihat dalam firman Allah Taala sebagai berikut.

"Orang-orang Arab Badui itu berkata, 'Kami telah beriman'. Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, 'kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu." (Al-Hujurat: 14)

Mengenai kisah Nabi Luth, Allah Taala berfirman,
"Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri." (Adz-Dzariyat: 35-36) 

Di sini terlihat perbedaan antara mukmin dan muslim. Rumah yang berada di negeri itu zahirnya adalah rumah yang Islami, namun ternyata di dalamnya terdapat istri Luth yang menghianatinya dengan kekufurannya. Adapun siapa saja yang keluar dari negeri itu dan selamat, maka mereka itulah kaum beriman yang hakiki, karena keimanan telah benar-benar masuk ke dalam hati mereka.

Perbedaan istilah ini juga bisa kita lihat lebih jelas lagi dalam hadis Umar bin Khattab ra bahwa Jibril pernah bertanya kepada Nabi saw mengenai Islam dan iman. Beliau menjawab, "Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan dan berhaji ke Baitullah." Mengenai iman, beliau menjawab, "Engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Utusan-utusan-Nya, hari Akhir, serta beriman dengan qadar yang baik dan yang buruk."

Walhasil, pengertian Islam secara mutlak adalah mencakup seluruh aspek agama termasuk Iman. Namun, jika istilah Islam itu disandingkan dengan iman, maka Islam ditafsirkan dengan amalan-amalan yang zahir yang berupa perkataan lisan dan perbuatan anggota badan, sedangkan iman ditafsirkan dengan amalan-amalan batiniah berupa itikad (i'tiqad) dan amalan hati.

Tuesday, 4 August 2015

Hakekat Dan Kedudukan Tauhid

PortalRenungan.
Allah SWT berfirman yang artinya, "Aku menciptakan jin dan manusia, tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada-Ku." (Adz-Dzariat: 56)


Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah Taala dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw. Inilah hakekat agama Islam, karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata-mata yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya dengan penuh rasa rendah diri dan cinta. 

Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridoi oleh Allah. Suatu amal diterima oleh Allah sebagai suatu ibadah apabila diniati ikhlas semata-mata karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah saw.

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah tagut (thaghut)." (An-Nahl: 36)

"Thaghut" yaitu setiap yang diagungkan--selain Allah--dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia, ataupun setan. Menjauhi tagut yaitu mengingkari, membencinya, tidak mau menyembah dan memujanya dalam bentuk dan dengan cara apa pun.

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya mencapai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka, serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu kepada mereka berdua dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka keduanya telah mendidikku waktu kecil."
(Al-Isra': 23-24)

"Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja) dan janganlah berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya." (An-Nisaa': 36) 

Syirik yaitu memperlakukan sesuatu--selain Allah--sama dengan Allah dalam hal yang merupakan hak khusus bagi-Nya. 

"Katakanlah (Muhammad), 'Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikianlah yang diwasiatkan Allah kepadamu, supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga ia mencapai kedewasaannya, dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diwasiatkan Allah kepadamu, agar kamu ingat. Dan (kubacakan): Sungguh inilah jalan-Ku, berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu akan menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diwasiatkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (Al-An'am: 151-153)

Ibnu Mas'ud ra berkata, "Barang siapa yang ingin melihat wasiat Rasulullah saw yang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah Taala, .... (Al-An'am: 151-153, seperti tersebut di atas)."

Mu'adz bin Jabal, ra menuturkan,
"Aku pernah diboncengkan Nabi saw di atas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku, 'Hai Mu'adz, tahukah kamu apakah hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah?' Aku menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.' Beliau pun bersabda, 'Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh hamba-Nya adalah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya, sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya.' Aku bertanya, 'Ya Rasulullah, tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?' Beliau menjawab, 'Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri." (HR Bukhari dan Muslim)

Monday, 3 August 2015

Yang Maha Hidup

PortalRenungan.
pasang iklan Makanan yang kita makan ia tidak mendengar, tidak melihat, tidak bergerak, tidak tumbuh berkembang, tidak bernafas, tidak menikah dan tidak tidur, juga tidak bangun dari tidur, sebagaimana seperti manusia. Ketika makanan itu masuk ke dalam tubuh Anda, ia menjadikan tubuh itu menjadi hidup yang memiliki sifat-sifat tersebut di atas, seperti itu juga halnya dengan makanan binatang, demikian pula kandungan air dan tanah serta udara yang diserap oleh tumbuh-tumbuhan, tidak berkembang, tidak berbuah, tidak bernafas dan tidak makan, ketika masuk kedalam tumbuh-tumbuhan ia merubah tumbuhan itu menjadi tumbuhan yang hidup.

Kehidupan yang ada dalam setiap tubuh, dalam setiap tumbuhan atau binatang, setiap harinya, setiap saatnya, semua itu adalah hasil karya Dzat yang Maha Menguasai kehidupan.

Manusia telah mencoba untuk menciptakan kehidupan, tetapi selalu berakhir dengan kegagalan. Para peneliti di Timur dan Barat mengakui kegagalan mereka dalam menciptakan kehidupan. Sungguh Maha Benar Allah yang telah berfirman yang artinya,

"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat mendapatkan seekor lalat pun. Walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (Al Hajj: 73-74)

Sungguh, manusia tidak mampu untuk mengembalikan sesuatu yang telah diambil oleh seekor lalat, karena lalat itu ketika ia mengambil sesuatu maka air liurnya langsung merubah materi yang ia ambil itu menjadi sesuatu yang tidak mungkin dikembalikan.

Sesungguhnya kehidupan yang ditiupkan dan yang selalu ditiupkan kepada seluruh benda hidup berasal dari Dzat Yang Maha Hidup.

Setiap kehidupan mempunyai masa kematian saat datangnya penyebab kematian itu, tetapi Dzat yang menciptakan sebab tidak mungkin ditimpa oleh sebab itu karena ia Dzat Yang Maha Hidup, tidak mati.

"Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Al-Hadiid: 2)

"Dan bertakwalah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya." (Al-Furqan: 58).

Sunday, 2 August 2015

Cinta Kepada Allah

PortalRenungan.
"Dan di antara manusia ada orang-orang yang mengangkat sembahan-sembahan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu lebih kuat cintanya kepada Allah...." (AL-Baqarah: 165) 

Firman Allah Taala yang artinya, "Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah." (Al-Maidah: 54)


"Katakanlah: 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai; itu lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya'." (At-Taubah: 24).

Abu Razin al 'Uqaili bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah iman itu?" Rasulullah saw menjawab, "Yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih kamu cintai daripada selain keduanya." (HR Ahmad)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas ra bahwa Rasulullah saw bersabda, "Tidak beriman (sempurna) seseorang di antara kamu sebelum aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya dan manusia seluruhnya."

Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Anas ra, katanya, "Telah bersabda Rasulullah saw, 'Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada yang lain; mencintai seseorang tiada lain hanya karena Allah; dan tidak mau kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah darinya sebagaimana dia tidak mau kalau dicampakkan ke dalam api Neraka."

Disebutkan dalam riwayat lain, "Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman, sebelum...." dst.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, bahwa ia berkata, "Barangsiapa mencintai seseorang karena A1lah, membenci seseorang karena Allah, membela seseorang karena Allah dan memusuhi seseorang karena Allah maka sesungguhnya, kecintaan dan pertolongan dari Allah hanyalah bisa diperoleh dengan hal tersebut. Dan seorang hamba tidak akan menemukan rasa nikmatnyn iman, sekalipun banyak shalat dan shiyamnya, sehingga dia bersikap demikian. Persahabatan di antara manusia pada umunya didasarkan aras kepentingan dunia, namun hal itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka."

Ibnu Abbas dalam menafsirkan firman Allah Ta ala, "... dan putuslah segala hubungan antara mereka sama sekali." (Al-Baqarah:166), ia mengatakan, "yaitu kasih sayang."

Sesungguhnya seseorang itu mencintai sesuatu karena pengetahuannya akan kebaikan dan kemanfaatan sesuatu itu. Membenci sesuatu itu karena pengetahuannya atas keburukan atau kejahatan sesuatu itu. Sebagian besar manusia itu lebih mencintai dunia karena pengetahuannya akan dunia yang apabila dapat meraihnya mendapatkan kenikmatan, kelezatan, dan kesenangan. Hal ini karena jika manusia dapat meraih dunia, maka hidupnya di dunia bagaikan raja dengan segala fasilitas kemudahan serta kesenangan yang menyertainya.

Seorang anak remaja mendambakan menjadi bintang idola, maka dalam aktifitas kesehariannya disibukkan pada upaya-upaya untuk meraih apa yang dicita-citakan. Ia pun berusaha dari mulai mengikuti lomba menyanyi, lomba peragawati, lomba model, lomba putri ayu dan seterusnya. Oleh karena hanya dengan cara-cara seperti atau yang sejenis itu untuk meraih ketenaran menjadi bintang idola dapat diraihnya, maka tidak peduli apa pun yang harus dijalani maka dilakukannya. Inilah satu gambaran yang sangat gamblang dari kehidupan glamour di jaman edan sekarang ini, bahwa manusia berbondong-bondong untuk meraih dunia. Itulah para pencari dunia dan pecinta dunia. Maka kecintaannya kepada dunia melebihi cintanya kepada Allah dan hari akhir yang dijanjikan, sehingga melalaikan apa yang menjadi batas-batas sepak terjang seorang Muslim yang beriman kepada Tuhannya. Hanya demi uang dan ketenaran, maksiatpun dilakukannya. Agama tidak melarang manusia mencari uang sebanyak-banyaknya, tetapi dengan jalan dan cara serta membelanjakannya yang diridoi oleh-Nya.

Adapun orang-orang yang beriman, tidak tergiur dengan manis dan lezatnya dunia yang hanya sebentar saja. Oleh karena melalui jalan dan cara-cara yang diridoi oleh Allah SWT itu adalah sulit dan bertentangan dengan pola kehidupan dengan meraih kesenangan dunia, maka hanya sebagian kecil saja orang-orang yang tahan menghadapi pahit getirnya kehidupan ini. Itulah orang-orang yang beriman.

Diriwayatkan bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Rasuullah saw, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mencintaimu." Maka Rasulullah saw menjawab, "Bersedialah untuk miskin." Orang lelaki berkata, "Aku mencintai Allah Taala." Rasulullah saw bersabda, "Bersedialah untuk menghadapi bala(cobaan)."(HR Tirmidzi dari Abdullah bin Maghfal)

Orang-orang yang beriman meyakini dengan sebenar-benar iman firman Allah SWT yang artinya,

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti huan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridoan-Nya. Dan kehidupan di dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Al-Hadid: 20)

"Dan sesungguhnya kehidupan di akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, jikalau ia mau mengetahui." (Al-Ankabut: 64)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw menceritakan dari Tuhannya Yang Maha Tinggi, "Aku siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh, sesuatu yang mata tidak pernah melihat, telinga tidak pernah mendengar dan tidak pula tergores pada hati manusia." (HR Bukhari)

Oleh karena hal-hal yang demikian itu adalah termasuk dari bagian-bagian perbuatan yang Allah janjikan, maka setiap Muslim hendaklah belajar, mencari tahu untuk mengetahui dan mengenal akan Tuhannya. 

Maka sesungguhnya ke-Kuasaan, ke-Agungan, ke-Muliaan, ke-Perkasaan, dan segala ke-Mahatinggian Allah SWT itulah yang lebih patut seorang hamba mencintainya atas dasar yang demikian itu, sehingga orang-orang yang lebih mengenal akan Tuhannya, akan lebih mencintai-Nya.

Imam al Hasan al Basri berkata, "Barang siapa yang mengenal Tuhannya, niscaya ia mencintainya."

Saturday, 1 August 2015

Makna Tauhid

PortalRenungan.
Allah Taala telah berfirman yang artinya, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (Adz-Dzariyat: 56)

pasang iklan

Menyembah atau beribadah kepada Allah SWT ialah penghambaan diri kepada Allah Taala dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw. Inilah hakikat agama Islam karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata-mata yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.

Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridai Allah. Suatu amal diterima oleh Allah sebagai suatu ibadah apabila ikhlas karena Allah dan mengikuti dan sesuai tuntunan Rasulullah saw.

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat ( untuk menyerukan): "Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut. " (An-Nahl: 36).

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya....." (Al-Isra': 23-24).

" Katakanlah: 'Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhan-mu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia....." (Al-An'am: 151-153)

Ibnu Mas'ud ra telah berkata yang artinya, "Barangsiapa yang ingin melihat wasiat Muhammad saw yang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka hendaklah dia membaca firman Allah Ta'ala yang artinya, "Katakanlah (Muhammad): 'Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya…" dan seterusnya, sampai pada firman-Nya: "Dan (kubacakan): "Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus…" dan seterusnya."

"Aku pernah diboncengkan Nabi saw di atas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku, "Hai Mu'adz! tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah?' Aku menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.' Beliau pun bersabda, "Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya, sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya.' Aku bertanya, 'Ya Rasulullah, tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada ouang-orang?' Beliau menjawab, 'Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri." (HR Bukhari dan Muslim). Atsar ini diriwayatkan Tirmizi, Ibnu al Mundzir dan Ibnu Abi Hatim.

Sesungguhnya tauhid itu adalah pangkal ibadah. Praktik tauhid adalah PRAKTIK SAHADAT secara nyata. Inilah praktek beragama yang paling susah dan sulit karena di dalamnya terdapat hambatan-hambatan serta rintangan-rintangan dan godaan-godaan yang besar yang akan menjumpai setiap orang yang menempuhnya.

Hanya atas pertolongan, taufik, dan hidayah Allah sajalah setiap hamba dapat menempuhnya dengan benar dan selamat. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan pertolongan di sisi Allah SWT, amin

Friday, 31 July 2015

Makna Dan Sumber Akidah Yang Benar

PortalRenungan.
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya."(Al-Kahfi:110)

Akidah Secara Etimologi
Akidah (Aqidah) berasal dari kata aqd yang berarti pengikatan. "I'taqadtu Kadza," artinya "Saya beritikad begini." Maksudnya, saya mengikat hati terhadap hal tersebut. Akidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan, "Dia mempunyai akidah yang benar," berarti akidahnya bebas dari keraguan. Akidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.

Akidah Secara Syara
Yaitu iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan kepada hari akhir, serta kepada Qadar yang baik maupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.


Syariat terbagi menjadi dua, yaitu itikadiyah (I'tiqadiyah) dan amaliyah. Itikadiyah adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal. Seperti kepercayaan (i'tiqad) terhadap rububiyah Allah dan kewajiban beribadah kepada-Nya, juga beritikad terhadap rukun-rukun iman yang lain. Hal ini disebut pokok agama (ashliyah).

Adapun amaliyah adalah segala apa yang berhubungan dengan tata cara amal, seperti salat, zakat, puasa, dan seluruh hukum-hukum amaliyah. Bagian ini disebut cabang agama (far'iyah) karena ia dibangun di atas itikadiyah. Benar dan rusaknya amaliyah tergantung dari benar dan rusaknya itikadiyah.

Akidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal. Firman Allah SWT yang artinya, 

"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya." (Al-Kafi: 110)

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelumnya: 'Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi'." ( Az-Zumar: 65)

"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya. Ingatlah hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik)." (Az-Zumar: 2-3)

Ayat-ayat tersebut di atas dan yang senada dengannya yang masih banyak, menunjukkan bahwa segala amal tidak diterima jika tidak bersih dari syirik. Karena itulah perhatian Nabi saw yang pertama kali adalah pelurusan aqidah. Dan hal pertama yang didakwahkan para rasul kepada umatnya adalah menyembah Allah semata dan meninggalkan segala yang dituhankan selain Dia.

Firman Allah SWT yang artinya:
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Taghut itu', . . .." (An-Nahl: 36)

Dan setiap rasul mengucapkan pada awal dakwahnya, "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selain-Nya." (Al-A'raf: 59, 65, 73, 85).

Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shaleh, Syu'aib dan seluruh rasul. Selama 13 tahun di Makkah sesudah bi'tsah, Nabi saw mengajak manusia kepada tauhid dan pelurusan akidah, karena hal itu merupakan landasan bangunan Islam. Para da'i dan para pelurus agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul dalam berdakwah. Sehingga mereka memulai dengan dakwah kepada tauhid dan pelurusan akidah, setelah itu mereka mengajak kepada seluruh perintah agama lainnya.

Sumber-Sumber Akidah Yang Benar dan Manhaj Salaf dalam Mengambil Akidah
Akidah adalah tauqifiyah. Artinya, tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil syar'i, tidak ada medan ijtihad dan berpendapat di dalamnya. Karena itulah sumber-sumbernya terbatas kepada apa yang ada di dalam Alquran dan Sunah. Tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah, tentang apa-apa yang wajib bagi-Nya dan apa yang harus disucikan dari-Nya melainkan Allah sendiri. Tidak seorang pun sesudah Allah yang lebih mengetahui tentang Allah selain Rasulullah saw. Oleh karena itu, manhaj salafu saleh dan para pengikutnya dalam mengambil akidah terbatas pada Alquran dan Sunah.

Maka segala apa yang ditunjukkan oleh Alquran dan Sunah tentang hak Allah mereka mengimaninya, meyakininya, dan mengamalkannya. Apa yang tidak ditunjukkan oleh Alquran dan Sunah mereka menolak dan menafikannya dari Allah. Oleh karena itu, tidak ada pertentangan di antara mereka di dalam itikad. Bahkan, akidah mereka adalah satu dan jamaah mereka juga satu. Karena Allah sudah menjamin orang yang berpegang teguh dengan Alquran dan Sunah rasul-Nya dengan kesatuan kata, kebenaran akidah dan kesatuan manhaj.

Firman Allah SWT yang artinya:
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, ...." (Ali Imran: 103)

"Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak sesat dan tidak akan celaka." (Thaha: 123)

Karena itulah mereka dinamakan firqah najiyah (golongan yang selamat). Sebab Rasulullah saw telah bersaksi bahwa merekalah yang selamat, ketika memberitahukan bahwa umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan yang kesemuanya di neraka, kecuali satu golongan. Ketika ditanya tentang yang satu itu, beliau menjawab,

"Mereka adalah orang yang berada di atas ajaran yang sama dengan ajaranku pada hari ini, dan para shahabatku." (HR Ahmad) 

Kebenaran sabda baginda Rasul saw tersebut telah terbukti ketika sebagian manusia membangun aqidahnya di atas landasan selain Kitab dan Sunnah, yaitu di atas landasan ilmu kalam dan kaidah-kaidah manthiq yang diwarisi dari filsafat Yunani dan Romawi. Maka terjadilah penyimpangan dan perpecahan dalam aqidah yang mengakibatkan pecahnya umat dan retaknya masyarakat Islam.

Penyimpangan Akidah dan Cara-Cara Penanggulangannya
Penyimpangan dari akidah yang benar adalah kehancuran dan kesesatan. Karena akidah yang benar merupakan motivator utama bagi amal yang bermanfaat. Tanpa akidah yang benar seseorang akan menjadi mangsa bagi persangkaan dan keragu-raguan yang lama-kelamaan mungkin menumpuk dan menghalangi dari pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan, sehingga hidupnya terasa sempit, lalu ia ingin terbebas dari kesempitan tersebut dengan menyudahi hidup, sekalipun dengan bunuh diri, sebagaimana yang terjadi pada banyak orang yang telah kehilangan hidayah akidah yang benar. 

Masyarakat yang tidak dipimpin oleh akidah yang benar merupakan masyarakat hewani (bahimi), tidak memiliki prinsip-prinsip hidup bahagia, sekali pun mereka bergelimang materi tetapi terkadang justru sering menyeret mereka pada kehancuran, sebagaimana yang kita lihat pada masyarakat jahiliyah. Karena sesungguhnya kekayaan materi memerlukan taujih (pengarahan) dalam penggunaannya, dan tidak ada pemberi arahan yang benar, kecuali akidah sahihah.

Allah telah berfiman yang artinya, "Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih." (Al-Mukminun: 51)

"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): 'Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud!, dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang shaleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan'." (Saba': 10-11)

Maka kekuatan aqidah tidak boleh dipisahkan dari kekuatan maddiyah (materi). Jika hal itu dilakukan dengan menyeleweng kepada aqidah batil, maka kekuatan materi akan berubah menjadi sarana penghancur dan alat perusak, seperti yang terjadi di negara-negara kafir yang memiliki materi, tetapi tidak memiliki akidah sahihah.

Sebab-sebab penyimpangan dari aqidah shalehah yang harus kita ketahui adalah:
1. Kebodohan terhadap akidah sahihah karena tidak mau (enggan) mempelajari dan mengajarkannya, atau karena kurangnya perhatian terhadapnya. Akibatnya, tumbuh suatu generasi yang tidak mengenal akidah sahihah dan juga tidak mengetahui lawan atau kebalikannya. Akibatnya, merek meyakini yang haq sebagai sesuatu yang batil dan yang batil dianggap sebagai yang haq. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Umar ra yang artinya, "Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu demi satu, manakala di dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal kejahiliyahan."

2. Fanatik (ta'ashshub) kepada sesuatu yang diwarisi dari bapak dan nenk moyangnya, sekalipun hal itu batil, dan mencampakkan apa yang menyalahi, sekalipun hal itu benar. Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dalam surah Al-Baqarah: 170 yang artinya, "Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah', mereka menjawab: '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami'. (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk."

3. Taklid (taqlid) buta, dengan mengambil pendapat manusia dalam masalah aqidah tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki seberapa jauh kebenarannya. Sebagaimana yang terjadi pada golongan-golongan seperti Mu'tazilah, Jahmiyah dan lainnya. Mereka bertaklid kepada orang-orang sebelum mereka dari para imam sesat, sehingga mereka juga sesat, jauh dari aqidah shalehah.

4. Berlebihan (ghuluw) dalam mencintai para wali dan orang-orang shaleh, serta mengankat mereka di atas derajat yang semestinya atau terlalu mengagungkannya, sehingga meyakini pada diri mereka sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, baik berupa mendatangkan kemanfaatan maupun menolak kemudaratan.

5. Lalai (ghaflah) terhadap perenungan ayat-ayat Allah yang terhampar di jagat raya ini (ayat-ayat kauniyah) dan ayat-ayat Allah yang tertuang dalam kitab-Nya (ayat-ayat Quraniyah). Di samping itu, juga terbuai dengan hasil-hasil teknologi dan kebudayaan, sampai-sampai mengira bahwa itu semua adalah hasil kreasi manusia semata, sehingga mereka mengagung-agungkan manusia serta menisbatkan seluruh kemajuan ini kepada jerih payah dan penemuan manusia semata. Sebagaimana kesombongan Qarun yang mengatakan, seperti dalam surah Al-Qashash : 78 yang artinya, "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." 

Dan sebagaimana perkataan orang lain yang juga sombong, seperti dalam surah Fushshilat: 50 yang artinya, "Ini adalah punyaku . . .."

Mereka tidak berpikir dan tidak pula melihat keagungan Tuhan yang telah menciptakan alam ini dan yang telah menimbun berbagai macam keistimewaan di dalamnya. Juga yang telah menciptakan manusia lengkap dengan bekal keahlian dan kemampuan guna menemukan keistimewaan-keistimewaan alam serta memfungsikannya demi kepentingan manusia. Perhatikan firman Allah dalam surah Ash-Shaffat : 96 yang artinya:

"Padahal Allah-lah yang menciptkan kamu dan apa yang kamu perbuat itu."
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, . . . ."
(Al-A'raf: 185)

"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendaknya dan dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya), dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya." (Ibrahim: 32-34)

6. Pada umumnya rumah tangga sekarang ini kosong dari pengarahan yang benar (menurut Islam). Padahal, baginda Rasul saw telah bersabda, "Setiap bayi itu dilahirkan atas dasar fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang (kemudian) membuatnya menjadi Yahudi, Nashrani atau Majuzi." (HR Al-Bukhari). Jadi, orangtua mempunyai peranan besar dalam meluruskan jalan hidup anak-anaknya.

7. Enggannya media pendidikan dan media informasi melaksanakan tugasnya. Kurikulum pendidikan kebanyakan tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap pendidikan agama Islam, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali. Sedangkan media informasi, baik media cetak maupun elektronik berubah menjadi sarana penghancur dan perusak, atau paling tidak hanya memfokuskan pada hal-hal yang bersifat materi dan hiburan semata. Tidak memperhatikan hal-hal yang dapat meluruskan moral dan menanamkan akidah serta menangkis aliran-aliran sesat. Dari sini, muncullah generasi yang telanjang tanpa senjata, yang tak berdaya di hadapan pasukan kekufuran yang lengkap persenjataannya.

Cara-Cara Menanggulangi Penyimpangan:
1. Kembali kepada Kitabullah dan Sunah Rasulullah saw untuk mengambil akidah sahihah. Sebagaimana para salaf saleh mengambil akidah mereka dari keduanya. Tidak akan dapat memperbaiki akhir umat ini kecuali apa yang telah memperbaiki umat pendahulunya. Juga dengan mengkaji akidah golongan sesat dan mengenal syubhat-syubhat mereka untuk kita bantah dan kita waspadai, karena siapa yang tidak mengenal keburukan, ia dikhawatirkan terperosok ke dalamnya.

2. Memberi perhatian pada pengajaran pemahaman akidah sahihah, akidah salaf, di berbagai jenjang pendidikan. Memberi jam pelajaran yang cukup serta mengadakan evaluasi yang ketat dalam menyajikan materi ini.

3. Harus ditetapkan kitab-kitab salaf yang bersih sebagai materi pelajaran, sedangkan kitab-kitab kelompok penyeleweng harus dijauhkan.

4. Menyebar para dai yang meluruskan akidah umat Islam dengan mengajarkan akidah salaf serta menjawab dan menolak seluruh akidah batil.

5. Dan yang tidak kalah penting dari semua hal di atas adalah disamping pemahaman yang benar tentang akidah dan tauhid, tetapi juga bagaimana pemahaman tentang praktik akidah atau tauhid itu sendiri. Hal ini merupakan point yang kadang dilupakan oleh para pengajar ataupun para mubalig, bahkan para pengajar atau mubalig yang dari segi keilmuan dan pemahaman agama dengaan intelektualnya yang tinggi sekalipun belum tentu dapat melaksanakan praktek kehidupan aqidah atau tauhid yang sesungguhnya.

Dan hanya atas pertolongan Allah sajalah, setiap kita dapat berakidah dan betauhid dengan benar. Wallohua'lam.

Ilmu Adalah Jalan Keimanan

PortalRenungan.
Pembicaraan kita tentang tauhidullah baik rububiyah, uluhiyah dan asma was sifat, semuanya menuju kepada keimanan yang benar, yaitu bagaimana seharusnya kita menempatkan diri sebagai makhluk terhadap Khalik, pencipta kita: Allah SWT.

pasang iklanUntuk menuju kepada hal itu dibutuhkan Ilmu sebagai pedoman dan petunjuk jalan agar tidak tersesat, yang menyebabkan kita termasuk orang-orang yang merugi.

Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya,
"Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran." (Ar-Ra’d:19)

Lebih lanjut dijelaskan oleh Allah dalam Firman-Nya,
"Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (Az-Zumar: 9)

Hal itu karena keimanan yang dimiliki oleh orang-orang yang ikut-ikutan saja tanpa keyakinan yang penuh, sangat cepat berubah tatkala diterpa ujian dan cobaan, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya,

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (Tidak dengan penuh keyakinan) maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (kembali kafir lagi) rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (Al-Hajj: 11)

Oleh karena itulah, patut bagi kita untuk mengetahui kaidah-kaidah yang otentik guna mengantarkan kita kepada keimanan terhadap Allah SWT.

Dalil Akli (alasan logis)
"Bahwasanya sesuatu yang tidak ada tidak dapat menciptakan sesuatu."
Sesuatu yang tidak ada tidak mungkin mampu untuk menciptakan sesuatu, karena ia tidak ada.

Kaidah ini menghantarkan kita kepada Dzat yang Maha Ada. Kalau kita perhatikan mahluk-mahluk yang dilahirkan setiap hari, baik manusia, hewan, tumbuhan, dan kita perhatikan pula setiap yang terjadi di alam semesta ini seperti angin, hujan, siang dan malam, dan setiap yang bergerak dengan teratur, seperti matahari dan bulan, bintang-bintang, semua itu jika kita renungkan setiap saat, maka akan menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa akal kita akan memastikan semua itu bukan hasil ciptaan sesuatu yang tidak ada, akan tetapi itu adalah hasil ciptaan Dzat yang Maha Ada yaitu Allah SWT.

Dalil Nakli (Alquran dan Sunah)
Firman Allah SWT,
"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)." (AT-Thuur : 35-36)

Tauhid dan Korelasinya Dalam Menghapus Dosa

PortalRenungan.
Pada pembahasan terdahulu telah kita ketahui bahwa orang yang mentauhidkan Allah dengan keyakinan yang mantap dan ikhlas karena Allah semata, mereka itulah yang termasuk kedalam golongan yang disabdakan Rasulullah saw sebagai golongan yang diharamkan bagi mereka siksa neraka.

 
 Pengucapan kalimat tauhid dengan lisan belaka tidaklah cukup karena ia mempunyai konsekwensi yang mesti di tunaikan. Para ulama menegaskan bahwa mengesakan Allah adalah dengan meninggalkan perbuatan syirik, baik kecil maupun besar.

Di antara konsekuensi pengucapan kalimat tauhid itu adalah mengetahui kandungan maknanya, kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Allah berfirman, "Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan (Yang Haq) melainkan Allah." (Muhammad:19)

Kalimat Tauhid berarti Pengingkaran kepada segala sesuatu yang disembah selain Allah SWT dan menetapkan bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah semata, tidak kepada selain-Nya.

Aplikasi secara sederhana dari kalimat tauhid laa ilaaha illallah adalah keyakinan yang mutlak yang patut kita tanamkan dalam jiwa bahwa Allah Maha Esa dalam hal mencipta, dalam penyembahan tanpa ada sesuatu pun yang mencampuri dan tanpa ada sesuatu pun yang sepadan dengan-Nya, kemudian menerima dengan Ikhlas akan apa-apa yang berasal dari-Nya baik berupa perintah yang mesti dilaksanakan ataupun larangan yang mesti di tinggalkan, semua itu akan mudah ketika hati ikhlas mengakui bahwa Allah SWT itu Maha Esa.

Pembahasan ringkas ini mengantarkan kita kepada bagian kedua dari arti syahadatain: Dan bahwa Muhammad Adalah utusan Allah.

Apakah hukumnya orang yang berkeyakinan bahwasannya ada yang mampu mengelola alam semesta selain Allah?. Orang yang berkeyakinan seperti itu termasuk kafir karena ia menyekutukan Allah dalam urusan yang merupakan kekhususan Allah sebagai pencipta Alam semesta, bahkan ia lebih kafir dari orang musyrik sekalipun, karena orang musyrik pun mengakui bahwa yang mencipta dan mengelola semesta alam ini adalah Allah.

Firman Allah : "Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: 'Siapakah Yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, 'Allah." (AZ-Zukhruf: 87)

Kami membaca di beberapa surat kabar seputar operasi yang dilakukan beberapa dokter yang merubah jenis kelamin laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya, bukankah itu termasuk mencampuri urusan Allah ?. Tidak ada satupun dari makhluk di bumi ini yang mampu merubah jenis kelamin laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya, persoalan itu bukanlah urusan para dokter meskipun ilmu mereka sampai kepada seluk-beluk permasalahan jenis kelamin.

Firman Allah: "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Ia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." (Asy-Syura': 49-50).

Dalam ayat ini Allah memberitahukan bahwa hanya Dia sendirilah Yang memiliki kekuasaan merubah dan mencipta, di penghujung ayat Allah menjelaskan kesempurnaan ilmu-Nya dan kekuasaan-Nya.

Permasalahan yang terjadi terkadang adanya kemiripan pada anak yang dilahirkan, tidak diketahui jelas apakah ia laki-laki ataukah perempuan, di awal kelahiran mungkin dikira perempuan padahal ia laki-laki atau sebaliknya. Kebingungan ini biasanya akan hilang ketika menginjak baligh, maka peran dokter adalah mengadakan operasi agar sesuai dengan kecenderungan fitrah penciptaannya apakah ia laki-laki ataukah perempuan. Dalam hal ini, tugas dokter adalah mengungkapkan realita yang sebenarnya dari kondisi seseorang dan bukan merubah jenis kelamin dari itu dapat diketahui bahwa mereka tidaklah dapat mencampuri apa-apa yang merupakan urusan Allah, akan tetapi mereka hanyalah menyingkapkan apa yang diciptakan oleh Allah. Wallahua'lam.

Thursday, 30 July 2015

Mengimani Rububiyah Allah SWT

PortalRenungan.
Mengimani rububiyah Allah SWT maksudnya mengimani sepenuhnya bahwa Dia-lah Rabb satu-satunya, tiada sekutu dan tiada penolong bagi-Nya.


Rabb adalah yang berhak menciptakan, memiliki serta memerintah. Jadi, tidak ada pencipta selain Allah, tiada pemilik selain Allah, dan tidak ada perintah selain perintah-Nya.

Allah SWT telah berfirman :
"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanya hak Allah, Maha Suci Allah, Rabb semesta alam." ( Al-A'raf: 54).

"…Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari." (Faathir: 13).

Tidak ada makhluk yang mengingkari kerububiahan Allah SWT, kecuali orang yang congkak sedang ia tidak meyakini kebenaran ucapanya, seperti yang dilakukan Fir'aun ketika berkata kepada kaumnya, "Akulah Tuhanmu yang paling tinggi." (An-Naazi'aat: 24), dan juga ketika berkata, "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku." (Al-Qashhash: 38)

Allah SWT berfirman,
"Dan mereka mengingkarinya karena kedzaliman dan kesombongan mereka padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (An-Naml: 14).

Nabi Musa berkata kepada Fir'aun, "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir'aun, seorang yang akan binasa." (Al-Israa': 102).

Oleh karena itu, sebenarnya orang-orang musyrik mengakui Rububiyah Allah, meskipun mereka menyekutukan-Nya dalam uluhiyah (penghambaan).

Allah SWT berfirman yang artinya,
"Katakanlah: 'Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah: 'Maka apakah kamu tidak ingat?' Katakanlah: 'Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya 'Arsy yang besar?'Mereka akan menjawab: 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah: 'Maka apakah kamu tidak bertakwa?' Katakanlah: 'Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab: 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah: '(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?" (Al-Mu'minun: 84-89).

"Dan sesungguh jika kamu bertanya kepada mereka: 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' niscaya mereka akan menjawab, 'Semuanya diciptakan oleh Yang Maha perkasa lagi Maha Mengetahui." (Az-Zukhruf: 9).

"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan mereka?' niscaya mereka menjawab: 'Allah,' maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?" (Az-Zukhruf: 87).

Perintah Allah SWT mencakup perintah alam semesta (kauni) dan perintah syara (syar'i). Dia adalah Pengatur alam, sekaligus sebagai Pemutus seluruh perkara, sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Dia juga pemutus peraturan-peraturan ibadah serta hukum-hukum muamalat sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Oleh karena itu, barang siapa menyekutukan Allah dengan seorang pemutus ibadah atau pemutus muamalat, maka dia berarti telah menyekutukan Allah serta tidak mengimani-Nya.


Wednesday, 29 July 2015

Apakah Ihsan Itu ?

PortalRenungan.
"Ihsan itu adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia pasti melihatmu." (HR Muslim)

pasang iklan

Demikianlah salah satu petikan dialog Rasul SAW dengan Malaikat Jibril. Imam Yahya bin Syarafuddin an-Nawawi ketika membahas hadis ini menjelaskan orang yang melakukan ihsan itu setara dengan para shiddiqin, yaitu orang-orang senantiasa menghendaki ridha Allah. Kedudukan para shiddiqin ini lebih tinggi dari orang-orang yang ikhlas (mukhlishin).

Ihsan ternyata tidak sekadar berarti berbuat baik. Ihsan sesungguhnya lebih tepat diartikan berbuat yang terbaik. Inilah yang tergambar dari pesan Rasul dalam hadis di atas. Bila kita berbuat sesuatu sambil tetap merasakan bahwa Allah selalu melihat dan memperhatikan kita, apalagi yang mungkin diperbuat kecuali melakukan yang terbaik.

Dan, untuk mereka yang berbuat yang terbaik inilah, paling tidak 38 kali dalam Alquran, Allah mengulang penyebutan muhsin (orang yang berbuat ihsan) sembari menegaskan kecintaan-Nya kepada mereka dan ganjaran serta pahala untuk mereka.

Demikianlah Islam memotivasi umatnya untuk selalu menghasilkan prestasi kebaikan. Allah juga memerintahkan orang-orang beriman untuk menghindarkan diri dari pekerjaan yang sia-sia. (QS Al-Mukminun [23]: 3). Rasulullah dengan berbagai cara juga mendorong kaum Muslimin menjadi manusia yang selalu menebar kebaikan dan manfaat.

Lihatlah sabda beliau, ''Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.'' Dalam kesempatan lain beliau juga menegaskan agar kita tidak menjadi beban bagi siapa pun.

Cukuplah sudah Islam mengajarkan prinsip-prinsip kebaikan. Kemalasan, kebodohan, dan hawa nafsu kitalah yang sering membuat kita mengabaikan ajaran-ajaran mulia itu. Itulah yang menyebabkan umat ini belum kunjung bisa membuktikan diri sebagai khaira ummah (umat terbaik).

Masih begitu banyak di antara kita yang lebih suka menanti kebaikan ketimbang menghasilkannya. Padahal, bila semakin banyak orang yang menanti kebaikan, yang terjadi adalah defisit kebajikan. Bila jumlah orang yang membutuhkan kebaikan lebih banyak daripada orang yang berbuat kebajikan, yang terjadi adalah kekurangan cadangan kebaikan. Karena itu, mari berlomba-lomba berbuat baik. Wallahu a'lam.

Tuesday, 28 July 2015

Urgensi Tauhid Dalam Kehidupan Muslim

PortalRenungan.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan petunjuk kepada cahaya iman, dien yang lurus yaitu agama Islam melalui hamba pilihan-Nya Muhammad saw. Dan yang telah meneguhkan hati para hambanya yang teguh dalam memegang akidah yang lurus. Selawat dan salam teriring kepada teladan kita Rasulullah Muhammad saw, Nabi yang terakhir, juga kepada para keluarga dan para sahabatnya serta kaum muslimin/muslimat yang teguh mengikuti ajaran dan akidahnya sampai akhir jaman, amin.


Urgensi tauhid dalam kehidupan muslim sangat besar pengaruhnya, sebagai dasar utama yang dibangun di atasnya seluruh ajaran Islam.

Periode dakwah yang dilakukan Rasulullah saw. di Makkah menegaskan betapa tauhid sangat urgen pengaruhnya. Ayat-ayat Alquran yang diturunkan Allah pada fase itu fokus utamanya berbicara tentang tauhid.

Generasi sahabat, mereka yang dibina Rasulullah saw. adalah manusia-manusia yang bertauhid, yang tidak dijumpai di permukaan bumi ini sebelum dan sesudahnya.

Tauhid mampu merubah manusia menjadi manusia yang perilakunya sesuai dengan keinginan Allah SWT. Mungkinkah kita menjadi orang yang bertauhid seperti yang diinginkan? Dengan berdoa dan memohon taufik dari-Nya Insya Allah kita bisa mencapai ke arah itu minimal pemahaman tauhid kita tidak melenceng dari rambu-rambu yang ditetapkan Allah.

Semua itu memerlukan pemahaman yang benar akan tauhid dari sumbernya yang autentik yaitu Alquran dan Sunah serta kitab-kitab tauhid yang diakui keabsahannya oleh ulama-ulama Islam dahulu dan sekarang.

Untuk mendapatkan pemahaman yang benar dari sumber ilmu yang autentik, maka perlu merujuk kepada pehamaman generasi teladan umat yaitu generasi salaf. Kelurusan dan keteladanannya dalam beragama dan beraqidah tidak diragukan lagi karena mereka mewarisi apa yang telah diajarkan Rasulullah saw.

Allah SWT telah memberikan penilaian terhadap generasi tersebut akan keteladanan dan keutamaannya dari umat-umat atau generasi-generasi lainnya. Allah SWT telah berfirman,

"Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf (baik)dan mencegah kepada yang mungkar (jahat) dan beriman kepada Allah." (Ali Imran: 110).

Demikian juga sabda Rasulullah saw,
"Sebaik-baik generasi ialah generasiku (generasi yang sejaman dengan Rasulullah saw yang dalam hal ini adalah sahabat ra), kemudian generasi sesudah mereka (generasi yang belajar Islam dari sahabat Nabi, dalam hal ini disebut generasi tabi'in), kemudian generasi yang sesudah mereka (generasi yang belajar Islam dari tabi'in, dalam hal ini disebut generasi tabi'it tabi'in) kemudian setelah itu datang pula kaum-kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya (yakni sudah banyak orang yang tidak bisa dipercaya sehingga memberi persakssian dan sumpah tanpa diminta dan persaksian serta sumpahnya itu palsu)." (HR Bukhari).

Jadi generasi umat yang dapat dijadikan suri tauladan adalah tiga generasi semenjak generasi Rasulullah saw sampai generasi tabi'it tabiin, yaitu:
1. Generasi sejaman dengan Rasulullah saw: sahabat ra (generasi ayah).
2. Generasi sesudah mereka: tabi'in (generasi anak).
3. Generasi yang sesudah mereka : tabi'it tabi'in (generasi cucu), sampai abad ke-3 H.

Inilah tiga generasi pertama umat Islam, generasi yang terpercaya dalam menyampaikan agama Allah SWT. Kepada merekalah kita merujuk segala pemahaman agama Islam ini yang benar dan lurus, melalui merekalah kita mengambil ilmu syariat agama ini yang telah Rasulullah saw ajarkan dan mereka ini adalah generasi yang menumbuhkan sunnah-sunnah Rasulullah saw.
Banyak sekali sumber-sumber rujukan ilmu agama yang telah diwariskan oleh generasi kaum salaf. Dan juga generasi sesudahnya yang mengikuti jejaknya yang lurus dan dapat dipercaya.

Akan tetapi di antara pemahaman yang lurus itu telah muncul pula pemahaman yang menyimpang yang menyebabkan umat Islam ini berpecah-pecah atau bergolong-golongan. Masing-masing dari golongan yang telah menyimpang itu juga mengklaim bahwa golongan sendirilah yang pemahamannya benar sedangkan yang lain salah. Maka benarlah apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw,
"Umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan." Ditanyakan kepada beliau: "Siapakah mereka, wahai Rasul Allah?" Beliau menjawab: "Orang-orang yang mengikutiku dan para sahabatku." (HR Abu Dawud, Tirmizi, Ibnu Majah, Ahmad, Darami, dan -Hakim).

Dengan memahami persoalan tersebut di atas, maka kita sadar bahwa setiap Muslim perlu mencari dan mendapatkan pemahaman agama yang banar dan lurus yang tidak dibelokkan oleh kaum yang bodoh dan menuruti hawa nafsunya serta kepentingan kelompoknya. Hanya atas petunjuk dan pertolongan Allah sajalah kita dapat mengikuti jejak Rasulullah saw di dalam beribadah kepada-Nya.
Maka dengan mengharap pertolongan, petunjuk, taufik dan hidayah-Nya di dalam rubrik "TAUHID" ini, www.alislam.or.id berusaha menyajikan kepada pemahaman yang lurus sesuai dengan pemahaman salafussalih dari umat ini.

I. MUKADIMAH TAUHID

A. Tauhid Merupakan Dakwah Semua Rasul
Bahwa semua rasul yang diutus kepada umat manusia mempunyai kesamaan tujuan adalah sebuah aksioma yang mesti diketahui setiap Muslim. Hal itu dijelaskan dengan rinci oleh Allah SWT dalam firmannya di beberapa tempat dalam Alquran.

Firman Allah tentang rasul pertama, Nuh as;
"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkat: 'Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selan-Nya. Sesungguhnya kalau kamu tidak menyembah Allah aku takut kamu akan di timpa azab hari yang besar (kiamat)." (Al-A'raf: 59)

Firman Allah menjelaskan tentang perkataan Hud as kepada kaumnya;
"Dan Kami telah mengutus kepada 'Ad saudara mereka Hud, ia berkata: 'Hai kaumku sembahlah Allah sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepadanya." (Al-A'raf: 65)

Firman Allah tentang perkataan Saleh as kepada kaumnya;
"Dan Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata: 'Hai kaumku sembahlah Allah sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selan-Nya." (Al-A'raf: 73)

Firman Allah tentang perkataan Su'aib kepada kaumnya;
"Dan Kami telah mengutus kepada penduduk Madyan saudara mereka, Su'aib. Ia berkata, 'Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya." (Al-A'raf: 85)

Penjelasan Allah tentang diutusnya setiap rasul
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu." (An-Nahl: 36)

Penjelasan Allah tentang rasul-rasul sebelum Muhammad
"Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang Haq) melainkan Aku, maka sembahlah oleh mu sekalian akan Aku." (Al-Anbiya: 25)

Penegasan Rasulullah saw tentang tauhid
"Saya diperintahkan untuk memerangi manusia, sehingga mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan yang Haq disembah selain Allah SWT dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah." (HR Bukhrai, Muslim).
Dari uraian di atas maka kewajiban seorang Muslim yang pertama dan utama adalah menauhidkan Allah SWT dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusannya, dengan menunaikan kewajiban-kewajiban yang dicakup oleh kalimat sahadatain itu.

B. Macam-Macam Tauhid
Tauhid terbagi menjadi tiga macam:
• Tauhid Rububiyah
• Tauhid Uluhiyah
• Tauhid Asma dan Sifat

C. Urgensi Tauhid dan Korelasinya dalam Menghapus Dosa
Firman Allah:
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukan iman mereka dengan kezaliman (sirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Anfal: 82)
Abdullah ra ia berkata, "Ketika ayat ini turun kami berkata kepada Rasulullah saw, 'Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang tidak menzalimi dirinya?' Beliau bersabda, 'Bukanlah maksudnya seperti yang kalian katakan (firman Allah: 'Yang tidak mencampuradukan iman mereka') maksudnya adalah syirik, tidakkah kalian mendengar perkataan Lukman kepada anaknya: 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar." (HR Bukhari, Muslim)

Dari Ubadah bin Shamit ra ia berkata Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah tiada sekutu baginya dan Muhammad adalah hamba dan Rasulnya, dan bahwa Isa as adalah hamba Allah dan Rasulnya, ia adalah kalimat-Nya yang dianugerahkan kepada Maryam sebagai ruh dari-Nya, dan bersaksi bahwa surga dan neraka adalah kebenaran yang haq, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga dengan amalan apapun yang pernah ia kerjakan." (HR Bukhari, Muslim)
Hadits Itban ra meriwayatkan bahwa Allah mengharamkan neraka terhadap orang yang berkata, "Tiada Tuhan selain Allah dengan tujuan ikhlas karena Allah." (HR Bukari, Muslim)
Hadis-hadis di atas juga yang semisal dengannya menjelaskan keutamaan kalimat tauhid, tidaklah hanya sebatas ucapan yang dilafalkan mulut semata, namun ia memerlukan konsekwensi dari orang yang mengucapkannya. Karena tidaklah kaum Musrikin Quraisy dahulu tidak bisa melafalkannya tetapi mereka mengetahui konsekwensi jika mereka mengucapkan kalimat itu, tentunya hidahyah dan taufik Allah juga tidak masuk kepada mereka.

pasang iklan

D. Tanya Jawab
a. Tanya: Apakah macam-macam tauhid dan jelaskan definisinya?
Jawab: Macam-macam tauhid ada tiga: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Sifat.
Tauhid Rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal mencipta, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan dan yang semacamnya seperti mengelola apa yang ada di langit dan di bumi. Serta mengesakan Allah dalam menentukan hukum dan perundang-undangan dengan mengutus Rasul dan menurunkan kitab.

Firman Allah:
"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakannya pula matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah menciptakan dan memerintah hanyalah Allah. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam." (Al-A'raf: 54)
Tauhid Uluhiyah ialah mengesakan Allah dalam beribadah hanya kepadanya, tidak menyembah selai-Nya, tidak berdo'a kecuali kepadanya, tidak memohon pertolongan kecuali kepadanya, tidak bernadzar atau menyembelih binatang kecuali bagi-Nya.

Firman Allah:
"Katakanlah: 'Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, tuhan sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah." (Al-An'am: 162-163)

Tauhid Asma wa Sifat adalah mensifatkan Allah dan menamakan-Nya sesuai dengan apa yang disifatkan dan dinamakan oleh Allah sendiri dan sesuai dengan apa yang disifatkan dan dinamakan oleh Rasulullah saw kepada-Nya, dalam hadis-hadis sahih dan menetapkan bagi-Nya tanpa menyerupakan, mempermisalkan dan tanpa mentakwilkannya. 

Firman Allah:
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." ( Asy-Syuura: 11)