Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Friday, 29 November 2019

Penyebab Gagalnya Menyisakan Uang Untuk Orang Tua Tiap Bulan

GAGAL MENYISAKAN UANG UNTUK ORANG TUA TIAP BULAN? 
Ketahui Sebabnya, 

Sebagai anak,  sudah menjadi kewajaran,  ada rasa ingin membantu orang tua dg menyisihkan sebagian penghasilan setiap bulan? 


Tetapi,  kebutuhan hidup yg terus meningkat, dari mulai kebutuhan pokok yg terus naik harganya,  biaya anak sekolah yg semakin mahal,  listrik & BBM yg terus naik, juga aneka kebutuhan yg tidak terduga yg terus datang bertubi-tubi.  Sebut saja misal biaya perawatan kendaraan,  anak minta ganti HP,  rumah bocor, iuran anak di sekolah,  kondangan,  sumbangan lingkungan,  dll. 

Praktis,  akhirnya rencana kirim uang untuk orang tua pun batal. Anda berpikir,  ya bulan depanlah untuk orang tua.  Dan rangkaian peristiwa diatas kembali lagi terjadi. 

Anda pernah mengalaminya?  Atau selalu mengalami? 

Anda berpikir,  nanti kalau sudah longgar,  saya akan bantu orang tua. 

Tahukah anda,  hal itu terjadi karena kesalahan mindset didalam pikiran anda. 

Pernahkan anda berpikir,  apakah waktu orang tua merawat anda,  lalu dia akan mengutamakan kebutuhan mereka atau kebutuhan anda sendiri?  

Tidak masalah orang tua tahan lapar,  asal bisa lihat anak kenyang. 

Orang tua,  sendirian bisa merawat anaknya yg banyak. Tetapi,  anak yg banyak,  tak sanggup sekedar merawat 1 orang tua! 

Maka, mindset anda harus dirubah! 
1. Jangan sisakan dari penghasilan,  tapi ALOKASIKAN.  Kalau tujuannya menyisakan,  maka yg terjadi anda tidak akan ada sisa. Tega sekali anda,  memberi pada orang tua hanya sisanya!  Apa anda pikir orang tua dulu ketika merawat anda juga memberikan sisa? Tidak.  Anda diutamakan! 
Begitu terima penghasilan,  langsung pertama ambil alokasi dana,  transfer buat orang tua.  

2. Jangan menunda karena masih kekurangan!  Anda kekurangan itu karena anda tidak memperhatikan orang tua. Maka,  kalau mau rizqi berlimpah,  dahulukan orang tua. 

3. Apa yg kau perbuat pada orang tuamu,  itulah yg akan diperbuat anakmu kelak. 
Kau abaikan orang tuamu di hari senjanya,  maka lihat saja,  nanti anakmu jg akan mengabaikanmu dihari senjamu. 
Ajarkan anak mencintai orang tuanya dengan mereka melihat langsung bagaimana anda memperlakukan orang tua. 

Maka,  jika anda membaca tulisan ini,  detik ini juga,  tetapkan nominal berapa yg anda alokasikan untuk orang tua

Wallahu a'lam bish-shawab.
Semoga Allah selalu memberikan petunjuknya bagi kita semua.

Sunday, 26 March 2017

Orang tua Wajib Tahu, 7 Rahasia Mendidik Anak

PortalRenungan.
Menyesal Tidak Mengetahuinya Dari Dulu, Ini 7 Rahasia Mendidik Anak dari Ustdz Farid Ahmad!


1. Jika melihat anakmu menangis, jangan buang waktu untuk mendiamkannya. Coba tunjuk burung atau awan di atas langit agar ia melihatnya, ia akan terdiam. Karena psikologis manusia saat menangis, adalah menunduk.

2. Jika ingin anak-anakmu berhenti bermain, jangan berkata: “Ayo, sudah mainnya, stop sekarang!”. Tapi katakan kepada mereka: “Mainnya 5 menit lagi yaaa”. Kemudian ingatkan kembali: “Dua menit lagi yaaa”. Kemudian barulah katakan: “Ayo, waktu main sudah habis”. Mereka akan berhenti bermain.

3. Jika engkau berada di hadapan sekumpulan anak-anak dalam sebuah tempat, yang mereka berisik dan gaduh, dan engkau ingin memperingatkan mereka, maka katakanlah: “Ayoo.. Siapa yang mau mendengar cerita saya, angkat tangannya..”. Salah seorang akan mengangkat tangan, kemudian disusul dengan anak-anak yang lain, dan semuanya akan diam.

4. Katakan kepada anak-anak menjelang tidur: “Ayo tidur sayang.. besok pagi kan kita sholat subuh”, maka perhatian mereka akan selalu ke akhirat. Jangan berkata: “Ayo tidur, besok kan sekolah”, akhirnya mereka tidak sholat subuh karena perhatiannya adalah dunia.

5. Nikmati masa kecil anak-anakmu, karena waktu akan berlalu sangat cepat. Kepolosan dan kekanak-kanakan mereka tidak akan lama, ia akan menjadi kenangan. Bermainlah bersama mereka, tertawalah bersama mereka, becandalah bersama mereka. Jadilah anak kecil saat bersama mereka, ajarkan mereka dengan cara yang menyenangkan sambil bermain.

6. Tinggalkan HP sesaat kalau bisa, dan matikan juga TV. Jika ada teman yang menelpon, katakan: “Maaf saaay, saat ini aku sedang sibuk mendampingi anak-anak”. Semua ini tidak menyebabkan jatuhnya wibawamu, atau hilangnya kepribadianmu. Orang yang bijaksana tahu bagaimana cara menyeimbangkan segala sesuatu dan menguasai pendidikan anak.

7. Selain itu, jangan lupa berdoa dan bermohon kepada Allah, agar anak-anak kita menjadi perhiasan yang menyenangkan, baik di dunia maupun di akhirat.

Sumber: http://www.beritaislamterbaru.org/2016/03/menyesal-tidak-mengetahuinya-dari-dulu.html

Sunday, 11 December 2016

Anak, adalah Perhiasan sekaligus Ujian

PortalRenungan.



Alangkah indahnya minum teh dengan ditemani sepiring pisang goreng beserta istri, sambil melihat anak-anak bermain riang gembira. Sulit digambarkan dengan kata-kata! Ya, tidak diragukan lagi bahwa anak merupakan salah satu perhiasan dunia terindah. Rasa penat bekerja seharian seakan lenyap tak berbekas, saat pulang ke rumah bercengkerama dan bersenda gurau dengan anak-anak. Itulah perhiasan dunia!

“الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا”

Artinya :
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia”. [QS. Al-Kahfi (18): 46].

Namun waspadalah, sebab di sisi lain, anak juga merupakan ujian bagi kita.

“إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ”

Artinya :
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan sisi Allah-lah pahala yang besar”. [QS. At-Taghabun (64): 15].

Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita terpedaya. Sebab terkadang anak membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat Allah.

Anak, kerap juga mendorong sang ayah untuk menghalalkan cara yang haram. Seperti menyuap demi kelulusan si buah hati. Demi masa depan anak, katanya...

Anak, kadang membuat seorang insan menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang memprovokasi, “Barusan anakmu minta ini dan itu!”. Akhirnya iapun urung menginfakkan hartanya di jalan Allah. Padahal yang diminta anaknya bukanlah suatu kebutuhan primer. Benarlah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

“إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ، مَجْبَنَةٌ، مَحْزَنَةٌ”

“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut dan bersedih”. [HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau juga al-Albany].

Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh dan melanggar syariat agama. Ia pun membawa anaknya berobat ke dukun, padahal agama telah melarang dengan tegas hal itu.

Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari godaan tersebut?

Caranya adalah dengan mendahulukan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya, termasuk terhadap anak-anak. Kemudian senantiasa bertakwa dalam mengurus mereka.

Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa di antara amalan yang bisa menghapus keburukan akibat godaan anak, adalah mengerjakan shalat, berpuasa, bersedekah dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Beliau bersabda,

“فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِى أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ؛ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ”.

“Gangguan yang menimpa seseorang akibat keluarga, harta, diri, anak dan tetangganya, dapat dihapus dengan puasa, shalat, shadaqah dan amar ma’ruf nahi mungkar”. [HR. Bukhari dan Muslim].

Oleh : Ustadz Abdullah Zaen MA

Ebook Mendidik Anak Sholeh
Atau bisa langsung isi form berikut

Tuesday, 30 June 2015

Bersikap Jujur Dan Lembut Kepada Anak

PortalRenungan.
Seringkali, orang tua merasa bahwa sikap jujur hanya kewajiban anak. Ketika anak menumpahkan susu coklat di karpet, karena takut, ia mungkin akan berkata, "Bukan saya, Mama!" Lalu, orangtua akan marah dan membentak, "Jangan bohong!" Tapi, tanpa sadar, orangtua pun sering membohongi anak. Bila kita lelah saat si Putri mengajak bermain ke taman, orangtua dengan enteng, "Besok, ya sayang!" Tapi, esok hari, apa yang terjadi? Seringkali orangtua melupakan janji itu begitu saja.

 
Bohong adalah salah satu akibat dari sikap pemarah orang tua. Namun, bisa jadi pula, anak suka berbohong karena menirukan orangtuanya yang juga sering tidak jujur terhadapnya. Karena itu, dalam kesempatan ini kami akan membahas mengenai dua sifat yang harus dipegang teguh oleh orang tua, yaitu jujur dan lembut.



Sikap Jujur
Abdul Hamid Jasim Al-Bilali dalm bukunya "Seni Mendidik Anak" menyebutkan, "Penyebab kenakalan anak (termasuk di antaranya berbohong) adalah karena contoh yang buruk". Menurut Al-Bilali, "Seorang anak tentu tidak mudah menerima anjuran bebaikan dari orangtuanya jika ternyata perbuatan orang tua mereka sendiri bertolak belakang dari apa yang diperintahkan. Anak disuruh berkata jujur, tetapi mereka sendiri sering berdusta dan jika berjanji tidak ditepati."

Allah berfirman dalam surat Ash-Shaf, "Sungguh besar dosanya di sisi Allah bahwa kalian berbicara apa yang tidak kalian lakukan."

Ada kalanya, orang tua memang tidak marah menghadapi "kenakalan" anaknya, tapi, malah menggunakan kebohongan. Hal ini sama-sama berdampak buruk. Sering kita dengar orangtua melarang anaknya ribut dengan berbohong, "Heh, jangan ribut, nanti ditangkap hantu lho!" Hal ini malah akan membuat anak menjadi penakut dan sekaligus mengajarinya berbohong. Bila anak ribut, sebaiknya Anda mengalihkan perhatiannya dengan mengajak menggambar atau membacakannya dongeng.

Sikap Lembut
Sikap lembut terkadang amat sulit dipertahankan oleh orangtua. Anak kecil umumnya melakukan perbuatan-perbuatan yang dalam pandangan orang dewasa adalah "nakal". Namun, ada point penting yang harus dipahami oleh orangtua, yaitu sesungguhnya, anak kecil tidak pernah bermaksud untuk berbuat nakal. Dia bahkan tidak memahami konsep nakal itu sendiri. Apapun yang dia lakukan adalah sesuai dengan kemampuan nalarnya pada saat itu. Bila ia menumpahkan susu dikarpet, itu bukanlah kesengajaan karena ingin membuat Anda repot mencuci karpet, melainkan karena koordinasi tangannya yang belum stabil.

Bila ia merusakkan mainannya, itu lebih karena keinginatahuannya. Bila ia bermain-main dengan pot kesayangan Anda dan akhirnya pecah, itu bukanlah karena sengaja ingin membuat Anda marah. Bagi anak kecil, bermain adalah proses belajar. Ia akan belajar memahami bahwa barang kaca akan pecah bila dibanting.

Rasulullah SAW bersabda, "Hobi, permainan dan kelincahan gerak seorang anak pada waktu kecil, akan mempertajam pemikirannya ketika dewasa." (HR At-Tirmidzi).

Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya 'Ulumuddin juz V bab Mengobati Penyakit Hati, "Hendaknya anak kecil diberi kesempatan bermain. Melarangnya bermain dan menyibukkannya dengan belajar terus akan mematikan hatinya, mengurangi kecerdasannya, dan membuatnya jemu terhadap hidup, sehingga ia akan sering mencari alasan untuk membebaskan diri dari keadaan sumpek itu."

Menurut Ma'ruf Zurayk, guru besar pendidikan dan Psikologi Univ. Darul Mu'minin Damaskus, Pendidikan anak yang dilakukan dengan bentuk yang keras dan kaku mengakibatkan perasaan tertekan, hancurnya kepribadian dan tidak adanya kesempatan untuk mengungkapkan kepribadian anak.

Inilah hal-hal yang menyebabkan anak menggunakan kebohongan sebagai sarana, yang dengan jalan itu, ia memperoleh tempat yang dianggap baik dan dikagumi bagi kedua orangtuanya. Menurut Zurayk, terkadang anak juga berbohong karena takut hukuman yang dijatuhkan kepadanya, atau hanya karena sekedar kesenangan yang timbul dari sikap menentang terhadap kekuasaan yang keras orangtuanya.

Matthew McKay PhD telah menghabiskan waktu dua tahun untuk meneliti perilaku marah orang tua dan efeknya terhadap anak-anak. Dia menemukan bahwa 2/3 orangtua (dari 285 orang tua yang diteliti) mengungkapkan rasa marah kepada anak dengan berteriak dan membentak rata-rata 5 kali seminggu. Artinya, hampir setiap hari anak-anak menerima bentakan dari orangtuanya. Menurut McKay, "Bila Anda membentak anak hampir setiap hari, anak akan terluka hatinya. Bila hanya sekali seminggu atau sekali sebulan, anak tidak akan merasakan adanya serangan psikis terhadap dirinya."

Daripada Anda menghabiskan energi untuk marah dan akan berdampak negatif pada psikologis Anak, lebih baik Anda melakukan perbuatan preventif, misalnya, jangan meletakkan barang pecah belah di tempat yang terjangkau oleh anak. Atau, selagi anak masih kecil, Anda tidak perlu memasang karpet atau permadani mahal di lantai yang memerlukan tenaga ekstra untuk membersihkannya.

Sebaiknya pula, orangtua menghindari kata-kata yang bersifat larangan.
Pertama, karena akan membuat anak sulit menentukan alternatif tindakan. Misalnya, ketika ia berteriak-teriak, kita akan membentak, "Sst diam, jangan teriak!" Lalu, dia akan melakukan kegiatan lain, seperti memukul meja. Bila kembali kita larang, anak akan bingung, "Apa yang harus aku lakukan? Ini jangan, itu jangan."

Kedua, larangan (apalagi yang disertai bentakan dan marah) akan membuat anak kehilangan kreativitasnya. Adalah naif bila orang tua melarang anak merusak mainannya yang hanya berharga sepuluh ribu perak tapi menebusnya dengan kematian kreativitas yang merupakan bekal utama anak untuk hidup di masa depan.

Tulisan ini akan kami akhiri dengan hadis Rasulullah, "Masing-masing kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya." Ayah dan ibu adalah pemimpin anak-anak mereka dan kelak Allah akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah mereka lakukan terhadap anak-anak mereka. Karena itu, bersikap jujur dan lembutlah kepada anak!

Thursday, 28 May 2015

Ciri Busana Muslimah

PortalRenungan
Menurut Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam bukunya Jilbab Al-Mar'ah Al-Mushmah Fil Kitabi Was Sunnati" (Jilbab Wanita Muslimah), ada delapan syarat yang harus dipenuhi oleh wanita dalam berpakaian.

Pakaian tersebut harus menutupi seluruh badannya, ada yang berpendapat sampai dengan wajahnya ada juga yang berpendapat wajahnya boleh kelihatan.

Pakaian muslimah tidak boleh termasuk bagian dari perhiasan atau berfungsi sebagai perhiasan.
Pakaian muslimah kainnya harus tebal, tidak tipis. Hal ini mengandung maksud agar tidak menerawang sehingga tidak mengundang syahwat.

Pakaian muslimah harus longgar dan tidak ketat, agar tidak menampakkan bagian atau lekuk tubuhnya.
Pakaian muslimah tidak diberi parfum atau wewangian karena dapat mengundang syahwat.

Pakaian muslimah tidak boleh meyerupai pakaian laki-laki,
"Rosulullah SAW melaknat lelaki yang berpakaian dengan gaya pakaian wanita dan melaknat wanita yang berpakaian dengan gaya pakaian lelaki. (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Pakaian muslimah tersebut tidak menyerupai pakaian wanita kafir.
Pakain tersebut bukan libas syuhrah (pakaian untuk mencari popularitas.
Libas syuhrah adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik itu harganya mahal yang dipakai oleh seseorang untuk berbangga dengan harta dan perhiasannya, maupun pakaian murah yang dipakai oleh seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya'.

Adapun beberapa kesalahan wanita dalam menutup aurotnya antara lain sebagai berikut;

Bagian dada nampak membentuk.
Bagian dada seharusnya dibentuk untuk tidak menampakkan bentuknya, sehingga jilbab yang dipakai harus panjang sehingga menutup keseluruhan dada.

Bagian lengan yang terbuka.
Aurot wanita di depan lelaki yang bukan muhrim adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan hingga ke pergelangan tangan. Untuk itu lengan perlu di tutup dan di jaga agar tidak terlihat.

Bersolek dan berhias berlebihan.
"Dan janganlah kamu berhias dan bertingkahlaku seperti orang-orang jahiliyah dahulu-dahulu"
Wanita pada jaman jahiliyah terdahulu gemar berhias secara berlebihan untuk dipertontonkan kepada orang awam.

Memakai pakaian yang ketat.
Pakaian yang dipakai hendaklah longgar dan tidak melekap pada tubuh badan sehingga memperjelas bentuk badan.

Pakaian yang tipis dan jarang-jarang.
Pakaian yang dipakai hendaknya tidak tembus cahaya sehingga dapat menampakkan bayang-bayang atau warna kulit. Kita harus memilih jenis bahan pakaian yang sesuai agar aurot senantiasa terjaga/terpelihara.




Tuesday, 26 May 2015

Ayah Pahlawanku Dan Ibu Inspirasiku

PortalRenungan
"Dan hendaklah takut kepada orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada ALLAH dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar". (QS An-Nisa':9)


Anak-anak yang lemah menurut ayat di atas adalah anak yang lemah fisiknya, lemah skillnya, lemah pola pikirnya, lemah finansialnya dan lemah mental dan spiritualnya. Untuk itu kita harus selalu mendampingi anak-anak kita, agar anak kita tidak merasa father hunger. Dimana anak merasa ketiadaan ayah secara psikologis, fungsi ayah saat ini hanya ada dua yaitu hanya memberi nafkah dan hanya memberi ijin untuk menikah. Ayah ibarat mesin atm, yang disaat anak butuh uang sang ayah hanya memberikan uang saja. Itulah sebabnya di Indonesia sekarang terjadi fatherless country karena sektor pengasuhan dan pendidikan anak didominasi ibu-ibu.

Father hunger ini mempunyai dampak kerusakan psikologis yang diderita anak-anak yang tidak mengenal ayahnya. Hal ini berakibat rendahnya harga diri anak, anak akan bertingkah kekanak-kanakan, anak akan selalu bergantung kepada orang lain, kesulitan menetapkan identitas seksual (cenderung feminin atau hipermaskulin), kesulitan dalam belajar, kurang bisa mengambil keputusan. Bagi anak perempuan, tanpa model peran ayah setelah dewasa sulit menentukan pasangan yang tepat untuknya, salah memilih pria yang layak.

Islam memandang peran ayah dalam pendidikan anak sesuai Al-Quran QS At-Tahrim ayat 6 yang berisi tentang tanggungjawab pengasuhan anak ada di pundak ayah. Dialag pengasuhan anak di dalam Al-Qur'an ada 17 dialog pengasuhan tersebar di 9 surat. Ada 14 dialog antara ayah dan anak, 2 dialog antara ibu dan anak, 1 dialog antara orangtua tanpa nama dan anaknya. (Sumber: Hiwarul Aba' ma'al Abna fiil quranil karim wa tathbiqotuhut tarbawiyah - Sarah binti Halid Ad Dakhili Al Muthairi).

Kisah pendididikan Rosulullah yang di bina oleh paman dan kakeknya sebagai pengganti peran ayah, demikian juga dengan Maryam binti Imran.

Imam Ibnu Qoyim berkata:
Betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya dan memfasilitasi syahwat (keinginannya), sementara dia mengira telah memuliakannya padahal ia telah mendzaliminya. Maka hilanglah bagiannya pada anak itu di dunia dan di akhirat. Jika Anda amati kerusakan pada anak-anak, pada umumnya berasal dari sisi ayah. (Tuhfatul maudud bi ahkamil maulud).

Paradigma baru pengasuhan anak bahwa Ibu merupakan madrasah pertama seorang anak dan ayah adalah Kepala sekolahnya. Tugas dasar dari kepala sekolah sebagai berikut:

Membuat nyaman sekolah,
Yaitu membahagiakan ibu si anak dengan memenuhi kebutuhan dasarnya, memberi kesempatan istri untuk banyak bicara dan bercerita setiap malam, memberikan hadiah kejutan, bersabar saat istri marah, manajemen waktu bagi istri.

Menentukan visi dan misi,
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah di perbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Hasyr: 18)
Visi pengasuhan Ibrahim dalam QS Ibrahim: 35-37
Selamatkan Aqidah, biasakan ibadah, mengajarkan perilaku simpatik yang berakhlak mulia, memiliki life skill.

Melakukan evaluasi program
Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya:"Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya"(QS Al-Baqoroh: 133)

Termasuk mendiskusikan tahapan perkembangan anak dengan pasangannya.

Menegakkan aturan-aturan.
Waspadai gejala mother distrub, dimana anak takut melihat ibu karena sang ibu terlalu keras. Ayah menegakkan aturan, ibu memberikan rasa nyaman. Sosialisasikan aturan secara sederhana, bukan borongan. Mulailah saat anak bisa membedakan kanan dan kiri.

Mulailah hal ini dari usia anak masih dini. Karena fakta otak anak menyerap dan merekam segala sesuatu dengan cepat diusia 8 tahun pertama dalam kehidupannya. Bermain adalah cara belajar alamiah yang sesuai dengan otak. Ayah berperan melalui bermain dengan anak dikarenakan anak belajar banyak hal melalui permainan dengan cara yang menyenangkan. Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orangtua, khususnya ayah. Dalam permainan akan meningkatkan manfaat bermain untuk anak.

Kontribusi ayah misalnya, dalam permainan keras, ayah melatih anak untuk meningkatkan kemampuan motorik. Figur ayah sebagai perwakilan dunia luar merangsang keingintahuan anak sehingga meningkatkan kemampuan kognitif. Tubuh ayah adalah permainan yang paling menyenangkan bagi anak. Melalui bermain dengan ayah, anak belajar cara pria berinteraksi, perbedaan fisik, batasan dan kepemimpinan.

Kebutuhan anak akan ibu, dimana ibu memberikan rasa nyaman kepada sang anak. Ibu mengajarkan anak untuk mengenal dan mengelola perasaan. Ibu mengajarkan anak empati. Ibu mengembangkan imajinasi/otak kanan sang anak.